f

Jumat, 18 November 2011

ku putuskan engkau dengan senyman

ku tinggalkan ia yng sebelumnya ku cinta
bukan karena ku membencinya
aneh nian memang sang pencipta
dengan senang hati tinggalkan pujaanya

sungguh memang mata ini tak lagi kuasa
sang pujaan berhianat nan berlaku seenaknya saja
Mungkin kematian akan lebih indah rasanya
dari pada sang pujaan jajakan cinta

dalam hati Api kemarahan tersimpan dalam dalam
pada seseorang yang pernah jadi pujaan
Bukankah Allah dengan Aturan-Nya mengizinkan.......?!!!
ku sembunyikan iman dikala diri tertawaan dan nyawa tidak aman

Selasa, 08 November 2011

Surat Cinta tuk kekasihku... sugiarti


Kepada: Kekasih Dan kakaku (Sugiarti)
yang selalu ku cintaإ



Bismillahirrahmanirrahim…… Ba,da tahmid dan sholawat. Sebuah renungan, tak henti hentinya yang sering kita syukuri. Segala puji bagi Allah… semoga kita selalu jadi hamba yang bersukur. Semoga Allah Membuka hati kita agar mampu menjalankan aturan- aturanya amiiin.
          Keyakinan bahwa semua sudah di atur oleh Nya. Keyakinan bahwa kita akan di beri pendamping yang mampu memberikan menuntun kita pada kebahagiaan dunia akherat.
          Apakabar wahai kandaku tersayang….?
          Masihkah engkau menungguku…? Taukah engkau, ku masih menunggu, menanti atau whatever-lah atau yang sejenisnya, emang ku menyadari engkau tak menyuruhku menunggu walaupun menunggumu dalam posisi seperti ini sangatlah melelahkan, tapi menunggumu adalah hal yang sangat istimewa. Bayakhal yangku dapat, dengan menunggu, ku merenungi kesalah yang besar yang membuat engkau membenciku dan sebuah keihlasan yang mungkin engkau tak lagi mau denganku… 
Taukah engkau..? kenapa ku masih menunggumu sampai saat ini…?
          Masih ingatkah engkau di saat engkau cium aku…? Ku menangis.. ku memintamu jangan tinggalkanku..?
          Taukah engkau kenapaaku hanya memberimu sebuah Al-Qur’an..? tuk mengiringi kepergianmu…?
          Taukah engkau apa arti q memberikan cincin padamu..? walau itu bukanlah cincin emas yang engkau harapkan…
          Sungguh ku ingin selalu menangis jikalau ku mengingatmu melihat fotomu, kenangan manis, kemantapan hati ini pada engkau…. Sungguh tak kuat hati ini engkau tinggalkan, ku sungguh sudah merasakan kedekatan semua keluargamu… susah payah ku meyainkan seluruh keluargaku untuk menyetujui huhungan ku denganmu.  Tetapi kenapa giliran ku dapat retu dari mereka dengan susah payah, justru sekarang engkau yang meninggalkan ku, di saat ku begitu takut akan kehilanganmu disaat ku membutuhkanmu untuk jadi pendampingku…?
Kumasih menunggumu sampai saat ini karena engkau adalah cahaya bagiku untuk mengabdi pada-Nya peyemangat hidupku.. Mungkin engkau dah lupa akan sebuah janji yang ku pinta darimu maupun yang engkau ucapkan untuku…  inilah salah satu alasanku menunggumu disaming ku mengharapkanmu tanpa batas ku juga berusaha menepati janjiku dan apa yang sudah terlempar dari lidahku.. ku tau.., ku hanya bisa berusaha walaupun janji tetaplah janji yang mungkin ku harus ingkari.. karena ku sadar cinta tak bisa di paksakan & ku ga mau mencintai orang dengan sebuah paksaan karena itu justru dirikulah yang akan menyakiti diriku sendiri dan dirimu dengan sakit yang abadi..
Kumasih menunggumu sampai saat ini karena engkaulah tujuanku dari awal ku bertemu denganmu, engkaulah sumber semangatku, engkaulah sumber ujianku yang begitu membahagiakanku.. di awal ku bertemu denganmu engkaulah pengujiku.. penguji fisiku dan mentalku.. penguji puasaku.. jika tak percaya tanyakanlah pada ibumu, ku percaya karena mereka mengetahui tentang diriku hingga ia sangat ingin engkau denganku, ku melihat keahagia mereka tanpa terkira melihat hubungan ku dengan mu..
Masih ingatkah engkau di saat engkau cium aku…? Ku menangis.. ku memintamu jangan tinggalkanku..? Memang benar ku sangat takut atas murka Allah, takut kesiasiaan tirakatku & puasaku tanpa guna, Tpi disisi lain ku sangat bahagia bisa mendapatkan dekapan, ciuman manismu yang tak pernah ku rasakan dari wanita manapun. Tangisan ku di saat itu bercampur aduk antara kebahagiaanku, dukaku dan kebodohanku kenapa ku berani melakukannya pada wanita yang seharusnya ku jaga jiwa ragannya ,dan ketakutanku akan kehilangganmu yang begitu besar hingga tanpa sadar ku menjatuhkan air mata, juga pertanggung jawaban pada jiwa ini padamu dan pada Allah..
Kini mana tanggung jawabmu…? Atas perbuatanmu…? Atas kebodohanmu kepada wanita yang seharusnya engkau jaga…?  Disinilah rasa dosaku yang begitu besar yang terngaing-ngaing dalam pikiranku yang tak tau harus bagaimana…

Taukah engkau kenapaaku hanya memberimu sebuah Al-Qur’an..? tuk mengiringi kepergianmu…? Ku ingin cinta ini dilandasi dengan iman dan takwa, ku ingin cinta ini suci, ku ingin engkau benar -  benar menjadi pendampingku untuk menuju keridhoan_Nya. Ku ingin engkau kuat akan cobaan yang menimpamu disana, dan sebuah gambaran kecil atas keseriusanku  mendampingimu tuk membawamu kepada ridhonnya.
Taukah engkau apa arti ku memberikan cincin padamu..? walau itu bukanlah cincin emas yang engkau harapkan… supaya engkau senantiasa mengingat aku, supaya engkau tahan akan cobaan, mengerti sebuah keseriusanku padamu, dan lambang dimana aku selalu menunggumu.. menunggumu sampai saat ini..
Mungkin inilah evaluasi dan memperbaiki diri ku.. menyadari dosa2 yang pernah ada.. ku biarkan air mata ini mengalir di setiap 1/3 malam, ku mendamba sebuah ketenangan, kesejukan, kenikmatan, dan kebahagiaan, yang bisa membuatku bersukur sabar tawakal menghadapi skenario Yang di berikan Allah kepadaku..
Ku buat tulisan ini tak meminta apa-apa hanya sebuah maaf yang besar atas sebuah kebodohan yang ku lakukan padamu…. Bukanlah menuntutmu kembali padaku, bukan pula mengadilimu atas sebuah kesalahan terbesarku.. walau sesungguhnya memang benar ku masih menunggumu, masih memberikan pintu hatiku padamu…
Ku rasa mungkin inilah isi hati ku yang masih banyak yang belum terlulis dan takdapat teringat untuk menjadi salah satu sarana.. meminta maaf padamu atas sebuah kebodohanku dan sekalilagi aku minta maaf seandainya justru dengan tulisan ini engkau tambah marah. Dan yang terahir…… hanya kepada Allah ku mohon ampun atas semua salah dan kelemahan dir, subhanakallahuma wa bihamdi, asyhadualla illaha illa anta, astagfiruka wa atubu ilaik…

          والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 (Adekmu Hatif Saiful Mursid)

CINTA BUTA



Kau menarik diriku
Disaat aku masih bertahan menyelamatkan semua
Kini apa yang bisa ku raih lagi?
Hanya tatapan dingin
Kebungkaman, kata kata kasar dan penghianatan
Mengapa kau rusak hubungan ini?
Kau memang sungguh tega kasih
Kau hanya menganggap cinta kita
Dalam bentuk saling memanfaatkan
Kenapa aku yang kau sakiti??
Kenapa kita bisa saling mengenal?
Dan mengapa aku terlalu mempercayaimu?
Jawaban itu takkan pernah ada kasih
Yang ada hanya kerianganmu yang terlepas dariku
Dan kesakitanku yang sangat menyiksa
Terus ku bertanya padamu
Apakah apa kata cinta di hidupmu?
Seperti apa cinta yang sempurna untukmu?
Dan kenapa kau tinggalkan aku?
Tapi kau takkan mau menjawab
Cuma penggalan kalimat yang bisa kau utarakan
“Aku tak butuh cintamu”
Sudahlah kasih
Sekarang Cuma beribu maaf dariku
Maaf bila ku yang bersalah
Hingga cinta ini begitu sakit
Maaf bila terus mengusik
Kehidupanmu sekarang yang begitu indah
Bila sampai kapanpun
Ku takkan pernah bisa menghapus
Semua bayanganmu dan kenanganmu
Meski kau telah perggi dan takkan kembali
Meski kau ingin menuntaskan ku
Dan menghapus aku dari hidupmu
Dan meski kau hanya cinta yang membawa luka bagiku
Bagiku.......
Kau selalu jadi kekasihku
Selalu dalam hidupku
Karena kau adalah cinta
Yang memiliki arti dari dulu hingga sekarang

Senin, 07 November 2011

Hatif Saiful Mursid: Kematian dianggap sebagai ujian

Hatif Saiful Mursid: Kematian dianggap sebagai ujian: Kematian dianggap sebagai ujian, cobaan, musibah dan sejenisnya, itu biasa saya dengar. Tapi, kematian disebut nikmat... itu lu...

Hatif Saiful Mursid: Pro dan Kontra pornografi di negara kita

Hatif Saiful Mursid: Pro dan Kontra pornografi di negara kita: Pro-Kontra pornografi dalam masyarakat tak ada habis-habisnya. Apa dan bagaimana pornografi itu belum ada batasan yang jelas. Bahkan h...

Etalase moksa diam mengenyam Lupa luruh meruntuh diam

Siapa mereka di ujung jalan itu ??
Yang aku kira hanya rembang senja
Ataukah hentakan terang taringmu
Usapku dalam,mendingin kaku di setapak itu
Ku kira mengira sekadar sapa
Anggun sungguh ikatan rantai abadi
Nian memikat melekat erat di kantong retinaku
Inilah itu pada ruang relung jiwa jiwa yang merenung

Serangkai tangkai mawar ku cumbu: sangat telak
Enggal terpingkal lunglai lagunya
Nila ku titik sedikit kernyitkan dahi dahi
Queen ku ratu ku
Apa anehnya ??
Lemah memerah ramah dalam,yang ku sebut itu lubang kita

Hari mau sungguh asyik tuk berjalan bergandeng tangan
Al kisah tentang tenteng tangan haus mereka
Siapkan senjata rombeng pada parodi sekawan
Yang kudengar di perantauan rimba ku
Inilah rumah kosong “afterlive” menyilang rona
Melingkar dalam,bersatu dan bersama

Regenerasi ringkas meretas pada moksa moksa rindu
Edukasi yang pasti tak terdapat di sekolah-sekolah maupun skripsi
Zamrud pun ku kira iri
Angin pun “tahu” bukan sekedar “tahu”

Pelajaran singkat menyingkat sajak sejuk kubang rindu
Akan pilu yang terkatub kitab yang mengutip segala apa
Hanya dari simbiosis mutualisme sajalah
Legam logam yang kau genggam itulah: moksa
Elastisitas gaya pegaslah peredam kejut itu
Fantasi yang terkadang luput oleh lembayung malam
Ingkarkan terang yang terbit esok: terdiam mengenyam seloroh kata

Melena dari arah multazamku ayang yang sungguh menggerayang
Irama ku taruh pada senar-senar rambut harpaku
Cikal cerita ujung pantai kata mereka
Hidangkan saji dalam tudung yang serupa baris dan sajak
Antara sendi-sendi lempengan bahasa itu
Elakkan segala tentang siapa aku, kamu, dia, jg mereka
Lingkarkan huruf huruf biarkan tercecer menjadi titik

Pijarkan rasa tuk terpatri dalam masing diri
Alunan melodi dari senar-senar harpaku yang kan mengantar
Tepat di mana tempat untuk merapat kita terdapat
Tinggal sisa sia serpihan serpihan tentang jiwa bocah
Intuisi sajak meremang pada generasi generasi lusa
Selalu setia sampai senggot-senggot mereka ringankan namun tak berkurang
Eratkan rindu pada malam melintang miliknya nan memeluknya
Lumatkan sendu sedu sedan berpasrah di atas tanahnya
Angkat tangan demi harapan yang dalam dekap degup jantung
Nyamanmu lah tersuguh ramah,melemah tubuh rapuh: tersimpuh
Ompong melawai lambai riang segala sajak yang terbang

Artikan ringkas lalu melawas luas
Akhir sebuah cerita sunyi dalam gulita

“kembali”

TERUNTUK SAUDARA/I YANG AKAN MENIKAH Menikah. Mendengar kata menikah maka kita akan berfikir atau mungkin fikiran kita semua sama yaitu tidak ada orang yang tidak mau menikah. Hanya orang yang tidak normal saja yang tidak mau menikah. Menikah merupakan sarana bagi kita untuk memperoleh keturunan yang sah dan diakui oleh hukum agama maupun hukum negara. Allah SWT juga memerintahkan kepada manusia untuk segera menikah apabila sudah mampu. Bahkan Allah SWT juga menjamin reeki orang yang menikah, walaupun orang tersebut dalam keadaan miskin sekalipun. Silahkan teman-teman buka Al Qur'an Surah An Nuur ayat 32. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” Selain itu, menikah juga merupakan Sunnah Nabi. Menikah merupakan menyempurnakan sebagian agama. Ada suatu hadist yang mengatakan bahwa menikah merupakan benteng yang ampuh untuk menjaga kita dari perzinahan. Selain itu nabi Muhammad SAW juga tidak menyukai seseorang yang sangat rajin ibadahnya tetapi ia tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR: Thabrani dan Hakim). "Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya." (HR. Bukhari) “Rasulullah Saw melarang laki-laki yang menolak kawin (sebagai alasan) untuk beralih kepada ibadah terus-menerus.” (HR. Bukhari) Ketika seseorang sudah siap menikah, maka ia harus memperhatikan empat hal dari calon pasangannya. Empat hal tersebut ialah keturunan, paras wajah, harta kekayaan, dan juga tingkat pemahaman agamanya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung.” (Bukhari dan Muslim) Dari keempat hal tersebut yang harus diperhatikan adalah tingkat pemahaman agamanya dan juga mempunyai satu keyakinan yang sama tentunya. Jikalau dari keempat hal tersebut seseorang lebih memilih ketampanan atau kecantikan dari calon pasangan, maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang merugi. Mengapa? kita semua pasti mengetahui dan memahami bahwa ketampanan atau kecantikan itu pasti hilang. Tentunya kita tidak akan mau cinta kita hilang bersamaan dengan hilangnya kecantikan atau ketampanan dari pasangan kita. Kemudian jika kita mencintai karena harta kekayaan, tentunya akan rugi juga yang akan kita dapatkan. Kekayaan sifatnya sementara. Bisa saja ketika kita mengenal pasangan kita, ia masih kaya raya. Pada saat menikah dengan kita, tiba-tiba ia bangkrut dan menjadi tidak mempunyai harta. Tentunya kita tidak mau cinta kita hilang bersamaan dengan hilangnya harta kekayaan dari pasangan kita. Selanjutnya perhatikanlah keturunan calon yang akan kita nikahi. Lihat semua silsilah keluarganya. Jangan sampai calon yang akan kita nikahi nantinya masih merupakan saudara kita yang haram kita nikahi. Selain itu perhatikan juga kebiasaan dari orang tua calon kita karena kebanyakan sifat dari seorang anak tidak jauh dari sifat orang tuanya. Oleh karena itu, cintailah dan nikahilah seseorang berdasarkan agamanya dan juga tingkat pemahaman agamanya. Cintai dan nikahilan seseorang dikarenakan sebagai sarana mempererat cinta kita kepada Allah SWT. jangan menikah dengan orang yang tidak seagama karena Allah SWT melarang kita semua untuk melakukannya. “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”[ qs Al Baqarah ayat 221] Setelah kita benar-benar yakin bahwa kita akan menikah dikarenakan melihat pemahaman agama dari calon yang akan kita nikahi dan tentunya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka saatnya untuk melakukan proses lamaran atau dalam bahasa gaulnya sering disebut dengan istilah khitbah. Tentunya sebagian orang pasti akan diterima lamarannya. Walaupun memang ada diantara kita yang tidak diterima lamarannya dikarenakan sesuatu hal. Tetapi mari kita anggap semua lamaran pernikahan itu diterima. Sebelumnya, ada yang perlu kita perhatikan. Apabila seorang wanita sudah dilamar oleh lelaki lain, maka kita tidak dibolehkan untuk mendekatinya atau mengajukan lamarannya. Kita harus menunggu keputusan dari orang yang dilamar, apakah ia akan menolak atau menerima lamaran. Apabila lamaran tersebut diterima, maka kita tidak boleh lagi mendekati orang tersebut. Tetapi apabila lamaran dari orang lain tersebut ditolak, maka kita baru diperbolehkan untuk mendekati dan mengajukan lamaran pernikahan kepada orang tersebut. ‘Uqbah ibn ‘Amir pernah menuturkan riwayat bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut: Orang Mukmin adalah saudara bagi Mukmin lainnya. Oleh karena itu, seorang Mukmin tidak boleh membeli barang yang telah ditawar sebelumnya oleh saudaranya, dan tidak boleh pula meminang (seorang wanita) yang telah dipinang oleh saudaranya sampai ia membatalkan pinangannya. Setelah lamaran (khitbah) diterima, tentunya akan disepakati acara pengucapan janji setia sehidup semati atau yang dikenal dengan nama Akad Nikah. dan juga acara perayaan pernikahan atau juga dikenal dengan nama Walimah. Ketika akad nikah, maka seseorang diwajibkan untuk memberikan mahar kepada calon istri. Pemberian mahar ini merupakan perintah Allah SWT kepada seseorang lelaki yang akan menikah. Perintah tersebut terdapat dalam AL Qur'an Surah An Nisa Ayat 24. "dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [282]. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya. [283]. Ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa' ayat 23 dan 24. [284]. Ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang telah ditetapkan. Seorang wanita yang akan dinikahi oleh seseorang lelaki tidak diperbolehkan untuk mempersulit calon suaminya dengan meminta mahar atau maskawin yang sangat banyak sehingga mempersulit calon suaminya untuk mewujudkannya. Cukup yang sederhana saja. Tapi saya menyarankan kepada seorang calon suami untuk memberikan mahar berupa uang ataupun emas kepada calon istrinya. Tidak perlu terlalu banyak, tentunya. “Di antara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (2231)] Alasannya sederhana saja. Jikalau seorang suami memberikan mahar berupa emas ataupun uang, tentunya diharapkan sang istri bisa menyimpan uang atau emas tersebut. Uang atau emas itu menurutnya bisa digunakan bersama jikalau sepasang suami istri nantinya sangat tidak mempunyai uang sehingga bisa menggunakan atau menjual emas atau uang tersebut. Tentunya harus meminta izin kepada sang istri karena sang suami tidak berhak memakai atau menggunakan mahar yang telah diberikan kepada istri tanpa izin dari sang istri. Setelah proses akad nikah selesai, maka resmilah sepasang anak manusia menjadi suami istri. Sebagai manusia yang memang mempunyai insting untuk bergembira dan berpesta pora, maka diadakanlah walimah. Tujuan diadakannya walimah atau pesta pernikahan ini bertujuan agar banyak orang yang mengetahui bahwa pasangan ini sudah menikah sehingga tidak ada lagi rasa dicurigai di masyarakat. Dalam melakukan proses walimah, Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar memberitahukan kepada banyak orang agar mereka mengetahui bahwa pasangan ini telah menikah. Tetapi dalam melaksanakan suatu pesta pernikahan janganlah berlebihan karena Nabi Muhammad SAW tidak menyukai pesta walima yang berpoya-poya dan berlebihan dikarenakan Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berlebihan dan juga orang yang berpoya-poya serta mubazir karena mubazir merupakan perbuatan setan. Tentunya kita tidak mau mengikuti perbuatan setan bukan? Pesta Walima sudah selesai, maka hari pun beranjak malam. Malam tersebut merupakan malam yang sangat istimewa bagi pasangan pengantun karena untuk pertama kali mereka bersama-sama berduaan menjalankan ibadah yang sangat disukai oleh Allah SWT tentunya. Itulah indahnya pernikahan yang diatur oleh agama Islam. Ada banyak ketentuan-ketentuan yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui Al Qur'an dan juga sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tetapi sayang banyak orang yang tidak mau tahu dan pura-pura tidak tahu dengan perintah Allah SWT dan juga anjuran nabi Muhammad SAW. Tentunya sebagai pengantin baru, kita semua pasti ingin bercinta dengan seorang wanita yang telah halal menjadi istri kita. Sebenarnya kita harus sabar dan kita harus pandai mengelola emosi sehingga bisa tenang pada saat malam zafaf (malam pertama) karena masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan baik yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dan juga kebiasaan baik yang dilakukan oleh orang-orang sholeh dari zaman dahulu sampai saat ini. Adab atau etika ketika kita memasuki malam zafaf ialah mandi terlebih dahulu. Setelah mandi dan membersihkan seluruh tubuh, maka disunahkan untuk sholat sunnah dua rakaat secara bersama-sama dengan istri tercinta. Sholat berjamaah yang pertama kali dilakukan sebagai suami istri tentunya akan terasa sangat bahagia dirasakan oleh pengantin baru tersebut. Mengapa dianjurkan untuk mandi kemudian melaksanakan sholat terlebih dahulu? tentunya kita akan merasakan capek dan juga badan kita akan mengeluarkan bau dikarenakan seharian melayani tamu undangan. Mandi dapat membuat tubuh kita bersemangatn kembali. Sedangkan sholat sunnah merupakan tanda syukur kita karena telah diberikan oleh Allah SWT seorang pendamping hidup yang akan selalu menemani kita dikala duka maupun suka. (link) dan (Link) Setelah mandi dan sholat sunnah dua rakaat bersama dengan istri tercinta, maka saat-saat yang paling berbahagia itu tiba. Saat dimana sepasang manusia memadu kasih, bercinta menikmati indahnya surga dunia. Tetapi sebelumnya alangkah lebih baik kalau kita meniru perbuatan bak yang dilakukan oleh orang-orang sholeh pada zaman dahulu dan masih dilakukan oleh orang-orang sholeh zaman sekarang ketika mereka menikah. Mereka membaca Allōhumma innī as-aluka min khoirihā wa khoiri mā jabaltahā ‘alaihi wa a’ūżubika min syarrihā wa syarri mā jabaltahā ‘alaih. (Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan dan kejelekan wataknya.) (HR. Bukhari). Setelah semuanya dilakukan, maka selanjutnya terserah anda mau bagaimana cara dan posisi yang akan anda lakukan. Tapi ada satu hal yang harus kita perhatikan yaitu kita tidak diperbolehkan mendatangi istri kita melalui belakang atau melalui d*b*r atau juga sering dikenal dengan istilah a*a* seks. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yatu "Sesungguhnya Allah tidak malu dalam kebenaran, jangan mendatangi istri di jalan belakangnya. Selain itu berdasarkan Riwayat dari Bukhori dan Muslim, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa "Boleh dari depan dan dari belakang selama pada kemaluannya." (Link) Banyak alasan mengapa Allah SWT melarang seorang suami mendatangi istrinya dari belakang. Logika sederhana kita pasti sama, dubur merupakan tempat keluarnya kotoran dimana pada kotoran itu terdapat banyak sekali penyakit ataupun kotoran. Sebagai manusia yang bersih dan juga melakukan perbuatan suci dan ibadah, tentunya kita tidak mau melakukan perbuatan seperti itu bukan? Malam zafaf atau malam pertama sudah dilalui. Bahagia atau tidak, hanya pasangan suami istri tersebutlah yang mengetahui dan hanya merekalah yang harus tahu. Orang lain tidak wajib tahu. Berkenaan dengan suasana pengantin baru, ada sebuah kebiasaan baik yang dilakukan oleh orang-orang yang sholeh. Kebiasaan yang baik itu ialah menghabiskan waktu bersama-sama guna memupuk rasa cinta yang lebih mendalam diantara keduanya. Alangkah baiknya pasangan pengantin baru menghabiskan masa-masa romantisnya selama seminggu. Hal ini sama dengan istilah bulan madu menurut manusia modern zaman sekarang ini. Tentunya masa-masa romantis itu tidak hanya pada tujuh hari itu saja. Masa-masa romantis itu harus ada setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik karena itu yang dianjurkan dan juga merupakan ladang pahala bagi pasangan suami istri. Tujuh hari itu merupakan suatu proses orientasi atau proses pengelanan betapa enaknya romantis bersama dengan pasangan tercinta tanpa ada yang berani mengganggu karena memang pasangan tersebut sudah halal untuk melakukan perbuatan tersebut. Hal yang perlu kita ketahui ialah pernikahan tersebut tidak selamanya indah. Didalam suatu ernikahan itu pasti ada yang namanya perbedaan pendapat, perbedaan kebiasaan, dan perbedaan gaya hidup. Jangankan didalam pernikahan, didalam kehidupan kita bersama dengan keluarga dan adik-adik kita pun ada yang namanya perbedaan seperti itu. Pernikahan itu sebenarnya adalah suatu cara menggabungkan dua anak manusia yang berbeda sikap, berbeda jenis kelamin, berbeda pendirian, berbeda cara pandang, dan juga berbeda kebiasaan hidup sehari hari-sehari sehingga wajar dalam suatu pernikahan pasti ada kerikil-kerikil kecil yang akan menghadang. Imam Ghozali mengibaratkan pernikahan itu seperti kapal dilaut besar. Sepasang suami istri merupakan nakhoda dari kapal tersebut. Laut lepas tersebut tidak lah datar airnya. Airnya bergelombang bahkan sesekali terjadi ombak besar yang siap menghadang laju kapal. Jika nakhoda tidak dewasa dan tidak mengetahui bagaimana cara mengelola permasalahan, maka kapal tersebut akan hacur dan tenggelam di dasar lautan yang luas. Seperti itulah pernikahan. Sepasang suami istri dituntut untuk dewasa dalam bersikap dan bertindak. Harus saling memahami dan saling mengerti terhadap kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Jika kedewasaan sikap dan kedewasan dalam bertindak serta ditambah dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, maka Insya Allah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah akan dapat sangat mudah diwujudkan. Sekarang bagi anda yang sudah siap menikah, selamat menikah dan selamat menempuh hidup baru. Bagi anda yang belum siap menikah, maka perbanyaklah puasa untuk menghindarkan diri kita dari perbuatan zina dan perbuatan keji lainnya. Semoga Allah SWT menjadikan diri kita semua sebagai makhluk ciptaannya yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya dan dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah.. AMiin.. sumber: http://ohs87.blogspot.com/2010/09/buat-yang-akan-menikah.html

Rabu, 02 November 2011

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

بسم الله الرحمن الرحيم
 
segala puji bagi Allah ta’ala, sholawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah  yang tidak ada Nabi lagi sesudahnya, Amma ba’du 
Diantara karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya adalah Allah Ta’ala telah menjadikan bagi mereka musim-musim kebaikan untuk melakukan ketaatan kepadaNya, mereka bisa memperbanyak amal-amal sholih pada musim-musim itu, berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang memenfaatkan musim-musim itu dan tidak membiarkannya berlalu sia-sia begitu saja.
Diantara musim-musim yang mulia ini adalah sepuluh hari yang pertama di bulan Dzulhijjah, itu hari-hari yang Rasulullah  memberikan kesaksian bahwa itu hari-hari yang paling mulia di dunia. Beliau menganjurkan untuk beramal shalih di hari-hari itu, bahkan Allah ta’ala bersumpah dengannya, maka ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sepuluh hari yang pertama di bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling utama di dunia, karena Allah Yang Maha Agung tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.
Hal ini memberi semangat kepada seorang hamba untuk sungguh-sungguh di hari-hari tersebut dan memperbanyak amal shalih serta amalan-amalan sunnah. Semoga Allah ta’ala memberi karunia kepada kita untuk bisa memanfaatkan sebaik-baiknya di hari-hari itu dan menolong kita memanfaatkannya sesuai dengan apa yang diridhaiNya.
Bagaimana kita menyambut 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ?
Menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk menyambut musim ketaatan secara umum, diantaranya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah :
1.Bertaubat yang benar.
Wajib bagi setiap muslim untuk menyambut musim ketaatan dengan taubat yang sejujurnya dan bertekad kuat untuk kembali kepada Allah ta’ala. Maka bertaubat adalah keberuntungan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat, Allah ta’ala berfirman :
“Dan bertaubat kepada Allah semuanya wahai orang-orang yang beriman, niscaya kalian akan beruntung.” (An-Nuur : 31)
2.Bersungguh-sungguh untuk memanfaatkan hari-hari itu.
Hendaknya seorang muslim sangat bersungguh-sungguh untuk memakmurkan hari-hari itu dengan perbuatan dan perkataan shalih. Barang siapa yang bersungguh-sungguh dengan kebaikan niscaya Allah ta’ala akan membantunya dan menyiapkan untuknya sebab-sebab yang menyempurnakan amal kebajikannya, barang siapa yang membenarkan kepada Allah maka Allah akan benar kepadanya, Allah ta’ala berfirman : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabuut : 69)
3.Menjauh dari maksiyat.
Sebagaimana ketaatan adalah merupakan sebab dekatnya seorang hamba kepada Allah ta’ala, demikian pula maksiyat itu merupakan sebab jauhnya seorang hamba dari Allah ta’ala dan terusir dari rahmatNya. Terkadang seseorang diharamkan dari rahmat Allah ta’ala disebabkan dosa yang dilakukannya. Maka jika menginginkan ampunan dosa dan terbebas dari siksa neraka, berhati-hatilah dari terjatuh ke dalam maksiyat pada hari-hari ini dan hari-hari yang lainnya !!!  dan siapa yang mengetahui apa yang diinginkannya maka akan rendah (tidak berharga) dari apa yang diberikannya.
Bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku muslim…untuk memanfaatkan hari-hari ini, dan sambutlah dengan baik sebelum luput darimu kesempatan ini dan kamu menyesal, dan kerugian bagi orang yang menyesal …
Keutamaan Sepuluh Pertama Bulan Dzulhijjah
1.         Bahwa Allah ta’ala bersumpah dengannya. Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, hal itu menunjukkan keutamaan dan agungnya kedudukan sesuatu yang dijadikan sumpah tersebut, karena Yang Maha Agung tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah ta’ala berfirman :
“Demi fajar. Dan malam yang sepuluh.”
Malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hal ini pendapatnya kebanyakan ahli tafsir. Dan Ibnu Katsir berkata : Itulah yang benar.
2.         Merupakan hari-hari yang telah dimaklumi yang disyari’atkan untuk selalu mengingatnya. Allah ta’ala berfirman : “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”
Jumhur para ulama berpendapat bahwa hari yang telah tentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Diantaranya pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhum.
3.         Rasulullah  memberi kesaksian bahwa itu merupakan hari yang paling utama di dunia. Dari Jabir bin Abdillah  dari Nabi  bersabda : “Hari yang paling utama di dunia adalah sepuluh hari (yakni yang pertama bulan Dzulhijjah)” Ditanyakan kepada beliau: “Tidakkah semisal itu dalam jihad fi-sabillah?” Beliau menjawab: “Tidak semisal itu dalam jihad fi-sabilillah. Kecuali seorang yang menutup wajahnya dengan debu (meninggal di medan jihad, pent)” (HR. Al-Bazzaar dan Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani)
4.         Di dalamnya ada hari Arafah. Hari Arafah adalah adalah hari Haji Akbar, hari diampuninya dosa dan pembebasan dari api neraka, jika tidak ada di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah kecuali hari Arafah maka hal itu sudah cukup sebagai satu keutamaan.
5.         Di dalamnya ada hari Nahr (tanggal 10 Dzulhijjah). Hari itu merupakan hari yang paling utama di dunia menurut pendapat sebagian para ulama Rasulullah  bersabda :
 أَعْظَمُ الْأَياَّمِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ [رواه أبو داود والنسائي وصححه الألباني]
“Hari yang paling utama di dunia adalah hari Nahr kemudian hari Qorr.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani)
6.         Terkumpul di dalamnya Ummuhatul Ibadah (pokok-pokok ibadah). Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: “Yang nampak bahwa sebab dimuliakannya sepuluh pertama bulan Dzulhijjah karena terkumpul di dalamnya Ummahatul Ibadah pokok-pokok ibadah yaitu: sholat, puasa, shodaqah dan haji, hal itu tidak ada di hari-hari yang lain.”
Keutamaan Beramal Di Sepuluh Pertama Bulan Dzulhijjah
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata : Rasulullah  bersabda: “Tidaklah ada dari hari-hari yang amal shalih pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari itu (yakni sepuluh pertama bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak pulang dengan sesuatu apapun (yakni meninggal di medan jihad).” (HR. Bukhari)
Dari Abdillah bin Umar radhiyallahu’anhuma berkata :  “Aku ada di sisi Rasulullah , maka aku menyebutkan kepada beliau tentang amal-amal sholeh.” Maka beliau bersabda: “Tidak ada hari-hari didunia yang lebih utama dari sepuluh hari ini”. Mereka bertanya: “Wahai Rasululloh tidak juga jihad di jalan Allah?” Maka beliau bertakbir kemudian bersabda: “Tidak pula jihad, kecuali apabila seseorang keluar dengan jiwa dan hartanya dijalan Allah, kemudian menjadi tempat meninggalnya di (HR.Ahmad dan Syaikh Al Bani Menghasankan sanad hadits ini)
Dua hadits ini dan yang lainnya menunjukkan bahwa setiap amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih dicintai Allah ta’ala daripada jika dilakukan di hari-hari yang lain, dan jika amal itu lebih dicintai Allah ta’ala maka hal itu menunjukkan lebih utama bagiNya. Dua hadits ini juga menunjukkan bahwa seorang yang beramal pada hari-hari itu lebih utama dari berjihad di jalan Allah yang pulang kembali dengan jiwa dan hartanya. Amal-amal shalih  yang dilakukan di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah pahalanya akan berlipat ganda tanpa terkecuali.
Diantara Amalan Yang Disunnahkan Pada Sepuluh Pertama Bulan Dzulhijjah
Jika sudah jelas bagimu wahai saudaraku muslim… tentang keutamaan beramal di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah mengalahkan hari-hari yang lain dan musim-musim ini merupakan karunia dan ni’mat dari Allah atas hambaNya, juga kesempatan yang besar yang wajib untuk dimanfaatkannya, maka harus menjadi perhatian anda untuk mengkhususkan sepuluh pertama bulan Dzulhijjah ini dengan menambah perhatian dan keseriusan untuk memerangi jiwamu dengan  ketaatan, memperbanyak amal kebajikan dan berbagai ketaatan. Seperti itulah dahulu keadaan para salafus shalih dalam musim-musim seperti ini.
Berkata Abu Utsman An-Nahdi: “Mereka (yakni para salaf) selalu mengagungkan sepuluh hari yang tiga: Sepuluh yang terakhir dari Ramadhan, sepuluh yang pertama dari bulan Dzulhijjah dan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram.”
Diantara amalan yang disunnahkan bagi seorang muslim untuk memperhatikan dan memperbanyak melakukannya pada hari-hari ini adalah :
1.         Menunaikan ibadah haji dan umrah. Keduanya adalah yang paling utama dari amalan yang dilakukan pada sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, barang siapa yang diberi kemudahan untuk menunaikan ibadah haji atau ke Baitullah atau menunaikan dengan cara yang sesuai maka balasannya adalah surga karena sabda Rasulullah  :
 اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلاَّ الْجَنَّةُ [متفق عليه]
“Dari umrah yang satu ke umrah berikutnya adalah penebus dosa diantara keduanya dan haji yang yang mabrur tidak ada balasannya kecualu surga.” (Muttafaqun alaih)
Haji yang mabrur adalah haji yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah  yang tidak dicampuri dengan dosa dari riya, mencari popularitas, perkataan keji dan fasiq serta dipenuhi dengan amalan yang shalih dan kebajikan.
2.         Berpuasa. Berpuasa juga masuk dalam jenis amalan shalih bahkan termasuk yang lebih utama. Allah ta’ala telah menyandarkan kepada diriNya karena kedudukannya yang mulia dan ketinggian nilainya, Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“Semua amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa maka itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya.”
Nabi  telah mengkhususkan puasa di hari Arafah (tanggal sembilan bulan Dzulhijjah), diantara sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dengan tambahan perhatian, diantara keutamaannya adalah beliau bersabda:
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa satu tahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR.  Muslim)
Karena disunnahkan bagi setiap muslim untuk berpuasa tanggal sembilan Dzulhijjah karena Nabi  menganjurkan untuk beramal shalih pada hari itu. Imam Nawawi rahimahullah berpendapat tentang sunnah berpuasa di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, beliau mengatakan: “Berpuasa di hari-hari itu adalah sunnah dan sangat sunnah.”
3.         Sholat . Sholat adalah ibadah yang paling mulia, paling agung dan paling banyak keutamaannya, karenanya wajib bagi setiap muslim untuk menjaganya pada waktunya dengan berjamaah. Dianjurkan untuk banyak menunaikan sholat-sholat sunnah pada hari-hari itu, karena hal itu merupakan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama. Rasulullah  bersabda dengan apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya: “Senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan hal-hal sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
4.         Mengumandangkan Takbir, Tahmid, Tahlil dan Dzikir. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma dari Nabi  bersabda: “Tiada hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintaiNya untuk beramal pada hari-hari itu dari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah dari tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad)
Imam Bukhari berkata: “Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma keluar ke pasar pada sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, keduanya bertakbir maka orang-orangpun bertakbir bersama keduanya. Beliau mengatakan: Dahulu Umar bin Khathab  bertakbir di kubbahnya di Mina pada hari-hari itu, juga beliau lakukan selepas sholat, di atas tempat tidurnya, ditendanya, di majlisnya dan di tempat beliau berjalan pada hari-hari itu semuannya.”
Disunnahkan bagi setiap muslim untuk mengeraskan suaranya dalam bertakbir pada hari-hari itu, dan hendaknya jangan bertakbir bersama (koor) karena yang seperti itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah  juga tidak seorangpun dari para salaf, dan yang sunnah adalah masing-masing bertakbir sendiri.
5.         Bershadaqah. Bershadaqah merupakan amalan shalih yang disunnahkan bagi setiap muslim memperbanyak melakukannya di hari-hari itu, Allah ta’ala telah menganjurkan dalam firmanNya : “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang Telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (Al Baqarah : 254)
Rasulullah  bersabda : “Tidak akan berkurang shadaqah dari harta.” (HR.Muslim)
Masih banyak amalan yang disunnahkan untuk memperbanyakan melakukannya pada hari-hari itu, menambah dengan yang sudah disebutkan, maka akan kami sebutkan sekedar untuk mengingatkan diantaranya : Membaca Al Qur’an dan mempelajarinya, istighfar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung hubungan silaturrahim dan kekerabatan, menebarkan salam, memberi makan, mendamaikan diantara manusia yang berseteru, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, menjaga lidah dan kemaluan, berbuat baik kepada tetangga, memuliakan tamu, infaq di jalan Allah, mengambil sesuatu yang mengganggu orang lewat di jalan, memberi nafkah kepada istri dan keluarga, mengurus anak yatim, menjenguk orang sakit, membantu meringankan kebutuhan saudaranya, bershalawat atas Nabi , tidak mengganggu kepada kaum muslimin, lembut terhadap bawahannya, menghubungkan kawan-kawan kedua orang tua, mendo’akan saudaranya di saat tidak bersamanya, menunaikan amanah, memenuhi janji, berbuat baik kepada bibi dan paman dari ibu, menolong orang yang kesulitan, menahan pandangan dari yang diharamkan Allah, menyempurnakan wudhu, berdo’a diantara adzan dan iqamah, membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at, pergi ke masjid dan menjaga sholat berjamaah, menjaga sholat sunnah rawatib, selalu mengerjakan sholat ied di mushola ied (tanah lapang), berdzikir setelah selesai sholat, selalu mencari pekerjaan yang halal, kasih sayang terhadap orang-orang lemah, selalu berbuat baik dan menunjukkan kepada kebaikan, hatinya selalu bersih dan meninggalkan kekerasan, mengajari dan mendidik anak-anak dan bekerja sama dengan kaum muslimin dalam kebaikan. Wallaahu a’lam.

Kematian dianggap sebagai ujian

       Kematian dianggap sebagai ujian, cobaan, musibah dan sejenisnya, itu biasa saya dengar. Tapi, kematian disebut nikmat... itu luar biasa...How can be? Bagaimana bisa kematian disebut nikmat? Dan karenanya harus kita syukuri?
      Dalam surat Ar Rahman, Allah mengulang-ngulang pertanyaan "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Setiap kali Dia menyebutkan suatu nikmat, maka pertanyaan tersebut akan mengikutinya.
Maka membaca ayat ke 26 sampai 28, yang artinya, "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, kita bisa memahami bahwa kematian/kebinasaan adalah termasuk nikmat Allah Swt. Dan hanya oleh orang-orang yang kafir dan keras kepala saja yang mengingkari nikmat tersebut.

      Mengetahui bahwa yang menyebut kematian sebagai nikmat adalah Sang Pencipta kematian, tidak ada pilihan kecuali percaya bahwa memang kematian adalah nikmat.
But, how can be??? Inilah beberapa jawabanya :
Dikatakan nikmat, karena kematian mengingatkan kita akan nikmat kehidupan. Dan sesuatu yang mengingatkan akan nikmat maka ia adalah nikmat. Sebagaimana kata pepatah arab, 'tu'roful asyyaa' biadldaadihaa' "Sesuatu diketahui dengan kebalikannya. Seperti warna putih memperjelas keberadaan warna hitam.
Jika demikian adanya, maka sesungguhnya segala ketidaknikmatan yang diciptakan oleh Allah, sejatinya adalah juga kenikmatan. Karena ia memperjelas kenikmatan yang sesungguhnya. Sakit memperjelas nikmat sehat. Rasa lapar memperjelas nimat kenyang.Tidak punya uang memperjelas nikmatnya punya uang. Tidak punya anak memperjelas nikmatnya punya anak. Tidak punya suami/istri memperjelas nikmatnya punya pasangan yang halal, dst.
Kematian disebut nikmat juga karena merupakan pengingat yang paling ampuh, dan pelajaran yang paling berkesan. Hanya dengan kematian sesorang manusia menyadari bahwa hidup di dunia tidak kekal adanya. Hanya dengan kematian, manusia menyadari kelemahan dirinya. Bukankah kematian tidak ada obatnya? Bahkan tidak dapat diundur atau dimajukan? Tidak ada seorangpun betapapun berkuasanya mampu melawan dan menghindar dari kematian. Subhanallah...kematian sungguh sebuah nikmat, dan Maha benar Allah yang berfirman,"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?".

      Selain itu, kematian adalah tawaran bonus. Sebuah janji bersyarat. Bukankah jika kita bersabar dan berserah diri ketika menghadapi kematian orang2 yang kita cintai, dapat mengantarkan kita kepada pahala yang sangat besar? Adakah yang mengingkari bahwa tawaran bonus seperti ini merupakan nikmat?
Tidak ada kepedihan yang melebihi kehilangan mereka yang kita cintai. Oleh karenanya bonus pahalanya juga sangat besar. Dan tawaran bonus ini banyak diterima manusia, tapi hanya sedikit diantara mereka yang berhasil mendapatkan bonusnya (semoga kita termasuk yang sedikit itu, amin)
Sebab lain adalah, kematian bukanlah akhir kehidupan. Tapi hanya sebuah perpindahan. Pindah dari kampung amal menuju kampung balasan. Di sanalah seorang mukmin akan mendapat balasan atas keimanan dan kebaikanya. Dan orang kafir akan mendapatkan balasan atas kekafiran dan kedurhakaanya.
Maka benar firman Allah, hanya orang kafir lah yang akan mengingkari nikmat kematian. Karena kematian baginya adalah awal penderitaan panjang tak berujung. Penderitaan yang tidak memungkinkan baginya untuk menyebut kematian sebagai sebuah nikmat.
Sebaliknya, seorang mukmin merasakan kematian sebagai sebuah nikmat. Karena hanya lewat gerbang kematianlah seorang mukmin akan mendapatkan kebahagian abadi dalam keredloan Tuhannya. Hanya dengan kematian seorang mukmin terlepas dari segala penderitaan dunia, kesengsaraan, fitnah, ujian dan penyakit-penyakit dunia.
Imam Bukhori dan Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dengan sanad mereka, dari Abi Qatadah bin Rab’i, bahwa Rasulullah Saw suatu ketika dilewati oleh jenazah sesorang, lalu beliau bersabda, “Yang beristirahat atau yang mengistirahatkan”. Para sahabat bertanya, “Apakah maksud yang beristirahat dan yang mengistirahatkan, wahai Rasulullah?”. Rasulullah Saw bersabda,”Hamba yang mukmin beristirahat dari segala urusan dunia. Sedang hamba yang durhaka mengistirahatkan manusia, hewan, tumbuhan dan alam dari kedurhakaannya.”
Berapa sering Alloh memutuskan keangkuhan para dictator lewat kematian. Menghempaskan mereka dari kemewahan istana menuju kegelapan dasar kubur. Dari keramaian massa dan pengawal menuju sebuah rumah yang terkunci pintunya. Rumah yang dijaga oleh ulat-ulat. Dengan kematian mereka, manusia menjadi tenang, negara menjadi tentram , bahkan hewan dan alam pun menjadi damai.
Allah SWT berfirman, “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” (QS Ad Dukhan ayat 29).
Allah SWT juga berfirman, “Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al An’am ayat 45).
         Dan seandainya Allah tidak menentukan kematian bagi makhluk hidup, niscaya dunia ini akan menjadi museum terbuka bagi penghuninya. Si A umurnya 500 tahun, si B umurnya 2000 tahun, si C umurnya 7000 tahun. Dan dengan demikian dunia akan penuh sesak dengan penghuninya, dan akan menjadi beban berat bagi negara dan pemerintah. Sungguh, jika bukan karena kematian, tentulah tidak ada kehidupan.
Bahkan jika ada 2 ekor lalat saja yang berkembang biak selama 5 tahun tanpa kematian, niscaya lalat-lalat itu akan membentuk lapisan berukuran 5 cm di seluruh permukaan bumi. Dari sinilah maka kematian sungguh adalah nikmat dari Allah Swt, karena dengan kematian lah alam menjadi seimbang.
Akhirnya, harapan kita hanya satu, semoga kita dapat 'mensyukuri' nikmat kematian ini, baik ketika ia merenggut mereka yang kita cintai atau ketika merenggut nyawa kita sendiri. Amin Ya rabbal alamin.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Pro dan Kontra pornografi di negara kita

Pro-Kontra pornografi dalam masyarakat tak ada habis-habisnya. Apa dan bagaimana pornografi itu belum ada batasan yang jelas. Bahkan hingga saat ini, batasan pornografi masih beragam dan masih menjadi perdebatan publik. Dalam kamus Inggris-Indonesia karya Hasan Shadily porno diartikan sebagai gambar atau bacaan cabul. (Harian Terbit, 24/1/06). Di pihak lain, dengan mengatasnamakan seni, selalu berkata “Ini seni, bukan pornografi”. Mereka berlindung di balik seni yang “agung”, demi menghalalkan karya mereka yang dapat merusak moral. Orang-orang awam mungkin akan berpikir bahwa seni selalu identik dengan seksualitas dan pornografi. (Koran Sindo, 17/3/06).
Lepas dari itu, kita berpendapat bahwa masalah ini sangat tidak layak untuk diperdebatkan. Sebab pornografi identik dengan zina, sedangkan zina tidak ada agama pun yang merestuinya. Terlebih lagi agama Islam yang menganggap zina sebagai sesuatu yang keji dan dosa besar. Demikian juga dengan akal sehat, menolak zina dan pornografi. Tidak ada yang merestui tersebarluasnya pornografi, kecuali mereka yang telah dibutakan oleh Allah SWT mata hatinya. Mengizinkan terbitnya majalah pornografi berarti membuka lebar-lebar pintu perzinahan.
Perbedaan pemahaman seputar pornografi dan pornoaksi sebenarnya diakibatkan oleh perbedaan sudut pandang sebagai dasar pijakan. Paling tidak ada dua sudut pandang yang mengemuka, yaitu pandangan sekular dan pandangan Islam. Pandangan sekular mengacu pada teori Freudisme.[1] Adalah Sigmeund Freud, seorang ahli psikoanalisa tersohor keturunan Yahudi, yang mencetuskan teori ini. Menurut teori ini dikukuhkan bahwa libido/seksual adalah mesin penggerak utama bagi kehidupan. Tanpa adanya hal-hal berbau seksualitas maka kehidupan akan berjalan lesu, terasa hambar tanpa gairah. Hingga akhirnya kreatifitas untuk berkarya secara maksimal pun musnah.[2]
Masyarakat yang mendewa-dewakan teori ini menganggap segala sesuatu yang beraroma seksual (tercakup di dalamnya pornografi dan pornoaksi) bukan saja diperbolehkan adanya, tetapi bahkan menjadi suatu hal yang niscaya. Pornografi dan pornoaksi dipuja-puja sebagai penyelamat bagi kelangsungan hidup tanpa dibatasi oleh norma-norma dan nilai-nilai agama. Maka tak pelak, laju kehidupan dikendalikan oleh kebebasan mengekspresikan pornografi dan pornoaksi dalam beragam bentuknya. Seks bebas (free sex), salah satu bentuknya, lantas menggejala sebagai suatu budaya yang dilegalkan.
Pandangan sekular dengan mengacu teori itu pun menginspirasi para pelaku bisnis. Bisnis esek-esek dengan ikon pornografi dan pornoaksi ternyata sanggup mendulang keuntungan yang berlipat-lipat. Melansir data Kompas (29/5/2006), sebuah industri kafe malam dan karaoke (bukan tidak mungkin digunakan pula sebagai kawasan prostitusi terselubung) di Jawa Barat mampu meraup hasil 3,4 miliar pertahun. Bahkan tabloid Lipstik hanya butuh Rp 3 juta untuk biaya operasional dalam sebulan, tetapi pendapatannya dari iklan berlipat ganda, yakni Rp 60 juta.[3] Sungguh jumlah keuntungan yang fantastis!
Dari sudut pandang Islam, teori semacam itu ditolak mentah-mentah. Tanpa menghamba pada pemujaan seksualitas, sejarah keemasan Islam telah mencatat tokoh-tokoh mumpuni yang melahirkan karya-karya monumental. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang menjadi pelopor disiplin keilmuan tertentu saat ini. Sebut saja, misalnya, al-Khawarizmi yang dikenal sebagai peletak dasar-dasar matematika, Ibnu Sina yang masyhur dengan julukan Bapak Kedokteran, dan Ibnu Khaldun dengan predikat Serba bisa.
Islam meletakkan masalah pornografi dan pornoaksi sebagai bagian dari kebutuhan naluriah sebagai bandingan terbalik dari kebutuhan fisik (W.M. Watt, 2002). Kedua jenis kebutuhan ini memang perlu dipenuhi, tapi karakter keduanya berbeda. Kebutuhan fisik akan muncul dengan sendirinya (faktor internal) dan jika tidak dipenuhi akan menyebabkan sakit bahkan kematian. Karena itu, kebutuhan fisik mutlak menuntut pemenuhan, seperti makan dan minum.
Sedangkan kebutuhan naluriah tidak mutlak dipenuhi sebab kebutuhan jenis ini datang akibat faktor eksternal. Tuntutan pemenuhan kebutuhan naluriah dapat dialihkan pada hal-hal lain. Dorongan seksual termasuk dalam kategori kebutuhan jenis ini. Pornografi dan pornoaksi adalah sarana efektif untuk memunculkan dorongan seksual ini. Karena itu, wajar jika banyak kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya disebabkan oleh karena pelakunya sering menonton pornografi dan pornoaksi.
Ini artinya, pornografi dan pornoaksi menjadi piranti bagi timbulnya perzinahan. Islam sendiri secara tegas menyerukan untuk menjauhi zina sebab tergolong perbuatan yang keji (Q.S. al-Isra [17]: 32). Maka, sangat jelas dalam pandangan Islam pornografi dan pornoaksi tegas dilarang dengan alasan apapun.          
Dalam prespektif Al-Quran. Batasan pornografi sudah sangat jelas sekali. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut ini.



Yang Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiyasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …” (QS. An-Nur [24] : 31)
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman.


Yang Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’mun: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih  mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab [33] : 59)
Ibnu Abbas, dan ‘Aisyah r.a. menafsirkan firman Allah SWT “… Illaa maa zhahara minhaa…”(An-Nur [24] : 31), kecuali yang nampak darinya wajah dan kedua telapak tangan, artinya boleh nampak dari anggota tubuh wanita muslimah hanyalah wajah dan kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan, sedangkan anggota tubuh yang lainnya wajib ditutup.
Penafsiran ayat tersebut, wajah dan kedua telapak tangan adalah pendapat yang masyhur dari Jumhur Ulama, mufassirin diantaranya, Ibnu Umar, ‘Athaa, Ikrimah, Saad bin Zubair, Abu Asy-Sya’tsaa’, Ad Dhihak, Ibrahim An Nakha’i dan yang lainnya. Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini berkata: “Kemungkinan Ibnu Abbas dan yang mengikutinya ingin menafsirkan “… Illaa maa zhahara minhaa…” dengan wajah dan dua telapak tangan dan ini adalah masyhur dari Jumhur Ulama”.
Disamping itu, Mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah, mengatakan “Aurat wanita muslimah seluruh badan, kecuali wajah dan kedua telapak tangan, tepatnya dari ujung jari sampai pergelangan tangan, sedangkan anggota tubuh lainnya termasuk katagori aurat wajib ditutup”, berdasarkan surat (QS. An-Nur [24] : 31).
Demikian juga, hal senada dikemukakan Mazhab Hanafiyah, “Seluruh tubuh wanita aurat, kecuali wajah dan kedua telapak tangan.” Dalil yang menunjukkan bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita bukan aurat, dalam hal ini dalil-dalil mazhab Hanafiyah tidak berbeda dengan dalil-dalil mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah, yaitu surat (QS. An-Nur [24] : 31).
Secara singkat dari penjelasan di atas, bisa diambil sebuah simpulan. Bahwa menutup aurat di luar dan di dalam Salat hukunya wajib. Seluruh anggota tubuh wanita yang telah baligh adalah aurat, kecuali yang boleh nampak wajah dan kedua telapak tangan. Di samping itu, dari kedua agama tersebut, baik agama Islam atau Kristen mewajibkan wanita untuk memakai Jilbab. Maka, penegasan ini perlu diketahui khalayakramai, mengingat pentingnya memakai Jilbab. Pakaian jilbab berfungsi untuk memelihara kehormatan, menjaga kesucian, dan keteguhan iman bagi memakainya. Bagi wanita muslimah, jilbab menjadi pakaian kebesaran yang memiliki nila-nilai luhur, menampilkan keayuan, keanggunan, dan menawan.
Di samping itu, Hj. Bainar, dalam karyanya; Membantu Remaja Menyelami Dunia Dengan Iman dan Ilmu, (2005:178,178). Ia menjelaskan. “Wanita muslimah yang berjilbab secara konsisten akan melahirkan sikap pribadi yang teguh dan tawadduh. Di tempat lain, mereka yang berjilbab diberi stigma yang kurang mengenakan, dibilang sok moralis, sok suci, sok alim sehingga mereka minder, malu, dan risih dengan pakaian muslimahnya. -Tidak hanya itu, terkadang dituduh ekstrimis, Islam garis keras,- dan wanita yang berjilbab dihubung-hubungkan dengan terorisme, Al-Qaeda dan lainnya. Ini memberikan angin segar demi berkembangnya pakaian yang kurang Islami, you cen see dan pakaian minim itu lebih mendapat tempat di hati masyarakat, padahal pakaian muslimah ini menjamin kesucian dan meredam mata laki-laki yang jalang.
Satu hal yang sepatutnya kita ingat selalu, bahwa keselamatan bangsa ini adalah tanggung jawab kita bersama. Perbuatan segelincir orang yang menyebarluaskan pornografi dan kecabulan akan mengundang turunnya kutukan dan azab Allah SWT. Dan apabila adzab Allah tersebut turun, maka tidak hanya menimpa para penerbit media pornografi itu saja, tetapi akan menimpa seluruh rakyat.


 Hal ini sebagaimana diperingatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya.



Yang Artinya: “Dan periharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al-Anfal [8] : 25)
Oleh karena itu, siapa saja yang peduli dengan keselamatan bangsa ini wajib mencegah atau memberantas pornografi dan majalah-majalah cabul. Cukuplah musibah demi musibah yang telah beruntun menimpa bangsa ini menyadarkan kita akan ketelodoran kita. Itu semua adalah teguran Allah SWT Yang Maha Kuasa kepada bangsa ini agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Pandangan Islam: Sebuah Tawaran Solusi

Sebenarnya Islam telah jelas melarang pornografi dan pornoaksi. Membicarakan pornografi dan pornoaksi berarti mencakup pembahasan aurat, terutama aurat wanita yang selama ini menjadi objek pornografi dan pornoaksi. Dalam Islam batasan aurat wanita sudah jelas. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (Q.S. an-Nur [24]: 31).
Walhasil, berdasarkan Al-Qur'an, batasan aurat wanita dalam Islam adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Oleh karena itu, jika seorang wanita menampakkan bagian tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangannya maka itu sudah termasuk perkara yang diharamkan dalam Islam—kecuali jika diperlihatkan kepada mahramnya.
Demikian juga dengan aurat laki-laki, dalam Islam juga sudah diberi batasan yang jelas, yaitu dari pusar sampai lutut. Oleh karena itu, jika ada seorang laki-laki yang menampakkan anggota tubuhnya dari pusar sampai lutut maka ia sudah melanggar syariat Islam. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad disebutkan: "Sesungguhnya apa yang ada dibawah pusar sampai kedua lutut laki-laki merupakan auratnya".
  Jelaslah, bahwa pornografi dan pornoaksi tidak ada alasan apapun untuk ditoleransi. Oleh karena itu, sebagai upaya meredam laju pornografi dan pornoaksi, sedikitnya tiga sektor berikut harus diberdayakan. Pertama, peran individu yang bertakwa. Suatu aturan Allah akan bisa diterapkan oleh setiap individu yang bertakwa yang memiliki keimanan yang kokoh. Ketakwaan dan keimanan yang kokoh didapat dengan cara pembinaan yang intensif dalam rangka membentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah islamiyyah) melalui penanaman tsaqafah islamiyyah (ilmu-ilmu keislaman) yang memadai, dengan menjadikan aqidah dan syariat Islam sebagai pijakannya.
Kedua, peran masyarakat. Para ulama, tokoh-tokoh masyarakat, dan komponen-komponen lainnya yang ada di masyarakat hendaklah secara bersama-sama dan bersinergi mengontrol setiap kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Ketiga, peran negara. Dalam pandangan Islam, negara bertanggung jawab untuk memelihara akidah Islam dan melaksanakan hukum-hukum Allah secara sempurna ditengah-tengah kehidupan termasuk melaksanakan sistem pengaturan yang dapat mengatasi pornografi dan pornoaksi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.[4] Negara seharusnya proaktif melakukan pencegahan terhadap adanya bisnis pornografi dan pornoaksi tersebut.







Penutup
Pornografi dan pornoaksi terjadi akibat gelombang modernisasi dan globalisasi yang deras menuju ruang-ruang kehidupan masyarakat. Tanpa ada kesadaran semua pihak untuk menghentikannya dengan pertimbangan kemaslahatan umat, pornografi dan pornoaksi akan terus berulang.
            Tapi di sisi lain, pornografi dan pornoaksi tetap menjadi lahan basah yang mendulang keuntungan besar bila dikomersilkan. Dalam kondisi dilema seperti ini, manakah yang harus diutamakan antara kepentingan material dan keselamatan moralitas masyarakat luas? Adalah sudah pasti bahwa melindungi dan memelihara moral bangsa jauh lebih maslahat daripada berpihak kepada mereka yang selama ini mendapat keuntungan material dari pornografi dan pornoaksi.


[1] Tentang dampak negatif dari teori Freud ini di komunitas Barat lihat Abdul Wahid dalam l-Islam wa al-Musykilah al-Jinsiyah, hal 13.  Sebetulnya apa yang disampaikan oleh Freud bukanlah sesutau yang baru karena al-Qur'an sendiri sudah menyatakan  dalam Surat Ala Imran ayat 14: زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذلك متاع  الحياة الدنيا والله عنده حسن المآب   Nabi Muhammad juga bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmuzi: إن لك النظرة الأولى وليست لك الآخرة  . Namun demikian al-Qur'an juga menyatakan secara tegas bahwa menjadi hak setiap insan untuk menyalurkan dan menikmati nafsu seksuanya hanya dengan cara melakukan perkawinan, antara lain dalam Surat al-Rum ayat 21: ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها   dan juga di dalam Surat al-Baqarah ayat 223: نسؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم
[2] Majalah Motivasi edisi Nomor 1 tahun IV/2000.
[3] Majalah Tempo edisi 20-26 Maret 2006.
[4] Muhammad Fatih dalam Waspada Online edisi 1 Juni 2006.